Kisah Inspiratif dari seorang pendiri Makaroni Ngehe, Ali Muharam
Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Hallo sahabat Warung Botol, bagaimana kabarnya nih? Mimin do’akan semoga sehat sejahtera yaa, aamiin...
Pada artikel kali ini mimin ingin membagikan kisah perjalanan seorang pebisnis yang bergerak pada bidang makanan, atau lebih tepatnya pebisnis camilan, yaitu "Makaroni Ngehe". Siapa yang tidak mengetahui camilan satu ini ? Dengan bahan baku makaroni dan bermacam varian rasa mulai dari ; original, asin, pedas, keju, balado mampu membuat orang-orang ketagihan dan ingin terus-terusan memakannya. Namun tahukah kamu mengapa Owner dari Makaroni Ngehe menamai produk bisnisnya dengan kata "Ngehe" ? Yuk kita simak kisahnya
Ali Muharam, pemuda 33 tahun asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi sosok penting dibalik camilan yang sampai saat ini digemari generasi milenial yaitu Makaroni Ngehe. Membranding produk dengan nama “Makaroni Ngehe” bukanlah sekedar nama. Namun memiliki arti yang mengisahkan hidupnya mengenai perjalanan karir dan bisnisnya. "Ngehe itu dari perjalanan hidup saya yang ngehe banget," ujar Ali saat berbincang dengan salahsatu wartawan kanal TV.
Sebelum memulai bisnis makaroni, Ali Muharam banyak mengalami pasang surut menjalani kehidupan. Berbagai macam hambatan dan tantangan pernah ia rasakan demi mencari pundi-pundi rupiah. Ali Muharam yang merupakan lulusan salah satu Sekolah Menengah Atas di Tasikmalaya, Jawa Barat, pernah menjalani kehidupan yang membuat dirinya tekun menjalankan usahanya. Menjadi lelaki daerah dan jauh dari kehidupan Ibukota membuat hatinya tergerak untuk mencari penghidupan yang lebih baik menuju Jakarta.
Dengan tekad dan keinginan yang kuat, Ali memutuskan untuk mengadu nasib menuju Jakarta. Pada tahun 2004 ada tawaran pekerjaan datang sebagai Office Boy di salah satu perkantoran di wilayah Bogor. Tak pikir panjang, Ali pun menerimanya. Pekerjaan sebagai Office Boy pun Ali nikmati, sambil menunggu jika ada lowongan pekerjaan di Ibukota Jakarta, kota impiannya. "Kerjanya bersih-bersih, kadang masak, belanja kebutuhan, saya terima tawaran itu karena Bogor tidak terlalu jauh dari kota tujuan saya yaitu Jakarta," ungkap Ali. Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, Ali kembali mendapatkan tawaran menjalankan bisnis di Jakarta, yakni membuka usaha warung makan di salah satu kantin kantor bank swasta di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Rasa khawatir dan takut pun terlintas dalam hatinya, kehidupan dan seluk beluk Ibukota Jakarta menjadi pertanyaan dalam benak pikirannya.
Menjalankan bisnis namun belum sepenuhnya paham dengan medan yang akan dirinya geluti. "Usaha itu yang memberi modal teman saya, tetapi saya operasional sendirian, mulai dari belanja, masak, melayani benar-benar sendiri semuanya," terang Ali. Kisah ngehe yang Ali jalani pun tak berhenti disitu, karena menjalankan operasional warung makan sendiran, Ali merasa tak mampu dengan beban yang dia lakukan setiap harinya. Perjuangan keras bertahan hidup di Ibukota Jakarta semakin membuat dirinya tegar pada satu tekad yakni harus lebih baik dan bisa bermanfaat bagi keluarga dan orang lain. "Selesai dari usaha warung makan, saya hanya punya uang Rp 50.000 untuk hidup di Jakarta, tetapi untungnya biaya indekos sudah dibayar untuk satu bulan. Kemudian saya dapat perkerjaan jaga toko baju di Blok M, tetapi ditempatkan di Kelapa Gading," papar Ali.
Pekerjaan menjadi penjaga toko pun ia jalani, karena memiliki lokasi indekos di kawasan Jakarta Pusat, Ali memiliki kendala yaitu biaya ongkos menuju tempat kerjanya di Kelapa Gading. Jauhnya jarak tempat tinggal sementara dan lokasi pekerjaan menjadi kendala, setiap harinya Ali harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 20.000 untuk biaya transportasi diluar biaya makan, sedangkan gaji setiap bulannya hanya Rp 900.000. "Sampai suatu waktu saya tidak makan siang disaat orang lain sibuk makan siang, karena kehabisan uang, tetapi ada mbak-mbak penjaga toko lain lihat saya enggak makan, kemudian saya diberi makanan yang dia bawa dan dibagi dua untuk saya dan dia, itu jadi makan siang terbaik saya," jelasnya. Namun kini, kisah kehidupan Ali telah berbeda, kisah-kisah Ngehe kehidupan Ali tak lagi berlanjut, kali ini dirinya sibuk mengurusi bisnis kuliner yang dia tekuni, yakni bisnis panganan olahan makaroni.
Bermodalkan pinjaman modal dari rekan dekatnya dan juga rasa nekat, dirinya memberanikan diri menggeluti usaha mandiri dengan modal awal Rp 20 juta. "Modal awal (Makaroni Ngehe) saya pinjam ke teman Rp 20 juta, itupun saya tidak tahu bagaimana nanti balikin pinjamannya, apakah usaha saya jalan dan berkembang," kata Ali. Bermodalkan Rp 20 juta, dirinya pun mencari tempat peruntungan untuk memulai usaha Makaroni Ngehe di Jakarta, dan mendapatkan lokasi di Kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang dia kontrak secara bulanan. Dari ide awal untuk memulai usaha dengan media gerobak pun berubah menjadi sebuah toko kecil berukuran 2x3,5 meter. Berbagai tahapan dia lalui, mulai dari penataan konsep warna toko, tata pencahayaan, hingga memasak, dan melayani dengan sendiri. "Saya jalani sendiri, dan saya tidur di sana menyatu dengan dapur di outlet pertama, setiap habis operasional jam 22.00 WIB saya bersihkan lumuran minyak, saya pel, kemudian pakai alas kertas roti dan tumpukan selimut untuk tidur setiap harinya," cerita Ali.
Usahanya pun tak sia-sia, dari omzet satu bulan dengan satu outlet sekitar Rp 30.000 per hari, akhirnya delapan bulan usahanya berjalan, Ali mampu mengembalikan modal usaha yang dia pinjam sebesar Rp 20 juta. "Saya cicil setiap bulannya dan bulan kedelapan lunas, dari awal omzet Rp 30.000 naik jadi Rp 100.000, naik lagi hingga Rp 500.000 per hari, saat itu saya bahagia sekali, karena hasil dari keringat sendiri, dari situ saya beranikan buka cabang," jelas Ali. Kini Makaroni Ngehe sudah merambah di berbagai kota mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, hingga Yogyakarta dan mampu menghabiskan makaroni 30 ton per bulan. Ali pun bahagia telah membuka lapangan pekerjaan bagi 400 orang yang berkerja dengan dirinya, tak hanya itu, Makaroni Ngehe juga tengah membuka cabang baru yang diberi nama Makaroni Ngehe Premium dimana oultet tersebut dibuka di mal atau pusat perbelanjaan di Jakarta dan Yogyakarta.
Semoga dari kisah diatas dapat memotivasi & menginspirasi kita semua untuk berjuang dalam menggapai tujuan!~